Bercinta dengan Tetangga Baru

Belum sebulan rumah disebelah rumahku ada penghuninya setelah sekitar satu tahun kosong tak berpenghuni. Yang membuat aku bersenang hati adalah penghuninya seorang mahasiswa cantik kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kotaku. Selain cantik ternyata tetanggaku ini anak orang kaya di kampung, gimana tidak kuliah saja sudah pakai mobil.

Saat orangtuanya datang mengantar, mereka menitipkan anaknya jika ada terjadi sesuatu untuk mau membantu, karena jauh dari orangtuanya dan anak gadis lagi. Sigap ku jawab dengan senang hati pak!

Seminggu setelah kepulangan keluarga Dewi ke desa, Selasa pukul 21.oo wib. Telepon di rumahku berdering. Saat ku angkat suara Dewi tetangga baruku. Dengan suara agak lemas dia memintaku untuk mengantarnya kerumah sakit karena dia BAB sudah beberapa kali sampai lemas. Aku langsung keluar dan pamitan untuk mengantar Dewi. Saat melihatnya di rumah memang wajahnya pucat sekali dan memegang perutnya, aku tuntun untuk masuk ke mobil dan melajulah kami ke rumah sakit terdekat.

Singkat cerita Dewi sudah berada di ruang emergensi, dengan mengaku kakaknya urusan Dewi administrasi aku atasi. Karena sudah cukup parah, maka Dewi diharuskan menginap di rumah sakit. Dan pilihan kamarpun cuma ada tersisa VIP, terpaksa aku menelpon keluarganya di desa untuk meminta persetujuan. Akhirnya keluarganya menyerahkan semua keputusan yang terbaik kepadaku. Aku setujui untuk menggunakan kamar VIP.

Dewi sudah berbaring lemah di kamar VIP dengan infus yang  tersambung di lengan kirinya. Untuk sesaat Dewi bisa tertidur. Pukul 23 lewat mendadak dia bangun dan kembali akan BAB. Setengah bingung aku tuntun juga dia ke kamar mandi, meletakankan infus dan menunggu di luar. Sontak Dewi memanggil, “Kak tolongin Dewi, kan ada infus di tangan kiri”. Waduh, mimpi apa aku sampai harus masuk ke kamar mandi yang orangnya sedang BAB. “Tolongin apa Wik, tanya saya?” setelah masuk. “Iya, tolong cebokin dong Kak!”. Walah, terkejut dan melongo aku mendengar permintaan edannya itu.

Gimana tidak, aku nyebokin orang yang baru BAB? Bukan sodara, bukan apa-apaku lagi. Akhirnya karena Dewi memaksa terus dan akupun kasihan, akhirnya ku cebokin juga dia. Saat nyebok, tak sengaja jari-jariku menyentuh kemaluannya, ini sudah ku duga sebelumnya tapi akhirnya aku cuek saja. Malah, sempat-sempatnya sengaja aku masukkan ke liang vaginanya. Sekalian gila deh pikirku.

Apa yang ku lakukan ternyata berdampak luar biasa. Dewi terengah-engah saat jari-jariku memainkan klitorisnya. Tapi Dewi membiarkan aku melakukannya walaupun sebenarnya urusan ceboknya dah selesai. Jika tadi tanganku ku dari belakang, sekarang malah ku beranikan menyeboknya dari depan. Dan tentu saja jari jemariku lebih leluasi mengobok-obok kemaluannya, hingga Dewi menjerit histeri mungkin dia orgasme. Akhirnya ku hentikan kegiatanku mengobok-obok kemaluannya karena kasihan Dewi tambah lemas. Akhirnya dia kembali ku tuntun ke tempat tidur.

Pukul 01 lebih Dewi membangunkan ku lagi, dia bilang mau BAB lagi. Weleh, bakal pegang lagi deh pikirku. Walau aku kembali menolak untuk masuk, Dewi masih tetap memaksaku untuk membantu menyeboki nya. Aku sempat bertanya, apakah dia marah dengan apa yang aku lakukan sebelumnya? Dewi hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaanku. Kembali aku menyebokin dia, tentu saja aku tidak kuat untuk tidak mempermainkan klitorisnya dan memasukkan jari-jariku ke liang senggamanya. Kali ini aku lebih agresif, benar-benar sudah BU (berat ujung) nih.

Melihat Dewi sudah terengah-engah menahan kegelian yang aku lakukan di liang senggamanya, aku ajak berdiri tapi bukan untuk keluar dari kamar mandi melainkan menyuruh dia membungkukkan badan berpegangan dengan tepi bak air. Dengan posisi nungging ini, aku kembali memasukkan jari jemariku ke dalam liang senggamanya. Cairan licin sudah memenuhi kemaluan Dewi, tak kuat aku buka celana saat itu Dewi sempat bertanya mau apa lagi Kak? Aku diam saja, yang ada malah ku masukkan batang kejantananku ke liang senggamanya saat Dewi nungging. Dewi sempat menolak, dengan menarik badannya kedepan, tapi tetap ku paksa masuk. Bless…. melesatlah batang kemaluanku ke liang senggamanya. Cepat aku gesek keluar masuk dengan kecepatan penuh. Dewi sudah merintih tidak karuan, tapi aku cuek saja, tidak akan berhenti sebelum sperma keluar di liang senggamanya.

Tapi, pertengahan jalan aku hentikan, karena sempat terpikir jika Dewi hamil karena ulangku ini akan bahaya  besar. Akhirnya aku keluarkan batang kemaluanku yang sudah berlumuran cairan vagina Dewi. Aku ambil kondom yang memang selalu tersedia di dompet. Dewi sempat melirik ke belakang melihat apa yang aku lakukan, tapi kali ini dia diam saja dan cuma berujar jangan lama-lama karena dia dah capek. Ok Wik, sebentar lagi kok. Ini juga sudah sesi puncak, bisikku.

Setelah memasang kondom, kembali ku masukkan dengan ganas batang kemaluanku ke liang vagina Dewi. Kali ini, aku berpacu dengan cepat, hingga Dewi menjerit histeris berkali-kali, bukan membuat aku menghentikan gerakan tapi makin jadi dan akhirnya….. keluar sudah…. hening sesaat. Aku keluarkan batang kemaluanku dan menyebok kembali vagina Dewi dan setelah selesai membersihkan punyaku, kami pun keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur Dewi.

Tidak ada kata yang terucap hingga Dewi tidur kembali, masing-masing kami sedang membayangkan kejadian yang barusan terjadi. Aku tidak tau apakah ini pengalaman Dewi yang pertama atau tidak. Akhirnya aku pun terlelap tidur karena kecapaian hingga pagi.

Maafkan Kakak ya Wik!

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: